Olympus Has Fallen

Urgent note: please press “back” button if you think you want to read a movie review. This article has nothing in common about it.

Another month another story. Many thing happens saat kita ketemu banyak kawan lama dengan background yang sudah tentu semakin berbeda.

Just last week, 6 hari yang lalu, gue ketemu dengan banyak sekali kawan lama. Lebih dari 2 bulan gak ketemu, ternyata banyak sekali cerita dari masing-masing yang menarik untuk disimak, diseriusin, bahkan klo perlu diejek dan ditertawakan.

Satu hal yang menarik perhatian gw adalah sekarang ini hampir semua temen-temen gue sudah berada di level menengah. Gak jadi kacung, belum pula jadi bos. Klo ngambil istilah anak sma di tahun 90an, posisi kami saat ini bagai anak kelas 2 sma, bisa ngegencet junior, tapi masih tetep digencet sama senior. Simalakama.

Being in middle position, khususnya bagi yang turun ke sektor riil, banyak sekali tantangan yang dihadapi. Dulu saat kami semua masih berada di kantor pusat, fokus kami hanya bagaimana memaksimalkan ide-ide brilliant yang muncul di kepala dapat diwujudkan oleh teman-teman yang berhadapan langsung dengan end-customer. Semua program yang kami buat, kami percaya bahwa semua bisa menarik dan menyerap kebutuhan pelanggan. Pada masa-masa itu, banyak yang menyebut kami sebagai “dewa”. Dewa karna dianggap tahu tentang semuanya, bahkan hal sekecil atom pun kami tahu.

Kini, semua udah berubah buat sebagian dari kami. Yang masih menjadi dewa tetap ada kok. Tapi yang udah mulai turun gunung juga lebih berani. Mereka dengan gilanya melepas semua atribut Zeus: kerah putih, jubah dan kilatan petir yang selalu nempel di tangan. Mereka mencoba terjun ke dunia riil, dunia yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Saya pun begitu.

Tiap hari datang lebih pagi, berhitung harus lebih cermat daripada sebelumnya, jaga sikap, jaga tone suara, semua hal yang jarang dilakukan selama di atas langit kini haru dilakukan. Tidak bisa lagi merasa semua ide dapat diaplikasikan dan diterima oleh masyarakat. Kami mulai belajar bahwa ternyata, setelah kehilangan semua kekuatan dewa itu we have to find another reason to live and survive. Dulu hanya netapin target, sekarang malah dikejar target. Dulu bisa bilang “ah, itu mah gampang, mereka aja yang belum familiar dengan metode baru”, sekarang “metode yang dikasih sama dewa di atas gak cocok untuk diaplikasikan di daerah ini, gue harus cari cara supaya daerah ini bisa ditaklukan”.

Walhasil sekarang, pemikiran kami semakin berkembang. Kami jadi tau apa itu struggle mode on, apa itu langkah nyata dalam mewujudkan strategi-strategi para dewa. Kami mulai belajar menyukain dan menerima keadaan bahwa kami sedang tumbuh plus berkembang menjadi pemikir dan penggerak yang lebih baik.

Olympus has fallen, but no matter what happen, we might rise and be on that mountain again. Let time reveal that all those who had fallen are much better than those who refuse to fall.

Salam 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s