Dunia. Sosial.

Kali ini agak serius. Hilangkan kata ‘agak’.

Awal tahun 2010 yang lalu, saat itu dunia social media masih setengah populer. Belum banyak pengguna dan yah hanya kalangan tertentu saja yang mendominasi.
Di awal kebangkitannya, media sosial yg saya kenal baik, yakni facebook dan twitter digunakan sebagaimana mestinya. Mencari teman dan penyampaian informasi yang cepat. Bukan untuk hal lain.
Kini, dua tahun sudah berlalu. Perkembangan dunia media sosial semakin melompat. Pengguna fb dan twitter berlipat bagaikan bola salju yg siap menghantam lembah. Makin banyak penyalah gunaan atas media itu. Bukan cuma mencari teman atau informasi yang wajar, kini digunakan untuk mencari uang bahkan mencari informasi yg seharusnya tidak perlu diketahui oleh orang lain, kini dgn mudah bisa didapat.
Singkatnya, tinggal klik atau pencet tombol ‘f’ dan ‘t’ .. Kamu bisa mendapatkan apa saja yg kau cari.

Saya, sekarang sudah mulai jenuh.. Jenuh karena saat ini media sosial menjadi sebuah hal yg vulgar, bagi saya dan lingkungan saya.
Kebebasan yang saya dapatkan diawal bergabung, kini sudah tumpah dari bibir pembatas. Singkatnya ‘Bablas’.
Jenuhnya saya bukan karena saya risih atas informasi yg orang dapatkan tentang diri saya, tapi saya risih dgn diri saya sendiri yang saat ini, khususnya hari ini, menjadi seorang kepo, dan bahkan bisa disebut ‘pengintai’.

Salahkah saya? Benarkah saya? Tidak ada yang bisa menjawab, karena di media sosial, saya, anda dan orang lain memiliki kebebasan yang sama. Yang bisa menjawab semua itu ya hanya saya sendiri.

Ya, saya menjawab dan menyadari bahwa saya salah. Saya salah karena memiliki pemikiran bahwa dengan saya mengumbar apa yang ada di benak saya, saya juga berhak untuk mengetahui apa yang ada di benak anda. Mungkin di tahun 2010, hal yang saya lakukan masih wajar, mengingat lingkaran yang saya miliki masih terbatas. Tapi kini, hal tersebut sudah gak baik, gak baik untuk dilakukan.

—-

Hari ini, saya menyetop dan mematikan akun media sosial saya.

Saya ingin kembali ke masa lalu. Masa dimana segala sesuatu hal yang saya ingin tahu, hanya dapat saya ketahui dari orang yang dimaksud. Harap-harap cemas dan selalu penasaran dengan positif.

Saya kembali menjadi orang yang ‘primitif’ di dunia modern.

Tujuannya satu. Mengembalikan diri saya apa adanya, saat saya hanya tahu apa yang saya perlu tahu tanpa saya perlu tahu tentang orang lain dari orang lain.

Terima kasih.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s