I. N. t r. O

This is a story about a boy, who almost grown up each day, but he shall never will.

Banyak diantara kalian akan berfikir bahwa semua cerita tentang kehidupan manusia itu haruslah diakhiri dengan bahagia. Tapi mungkin akan berbeda dengan anak ini. Bahagia adalah awal bagi dirinya, dan entah, kesedihan – mungkin bagi dirinya lebih dapat diartikan dengan kesendirian – selalu menjadi akhir dari masing-masing fase hidup yang dilaluinya.

Saya, seorang anak lelaki yang saat ini berusia hampir seperempat abad, bukanlah seorang yang memiliki wajah ganteng, kulit putih dan all the jock should have. Saya hidup dari keluarga yang dulunya berada di level kelas menengah, tinggal di tengah kota yang sudah dipenuhi dengan kepalsuan sejak lahir.

Sedikit saya beritahukan tentang keluarga saya. Saat masih lengkap, keluarga saya bisa dibilang sangatlah bahagia. Seorang ayah, yang saya panggil ‘Papa’ adalah seorang ayah yang humoris dengan logat jawa dan perut buncit yang menjadi simbolnya. Seorang ibu, yang saya panggil ‘mama’, adalah seorang ibu rumah tangga biasa, yah seperti seorang ibu lain, hobi merapikan rumah dan mengurus anaknya. Ada 3 orang anak dalam keluarga ini. Sulung seorang perempuan, tengah seorang lelaki, yakni saya, dan bontot seorang perempuan.

Seperti yang saya sebutkan di atas, awalnya mereka adalah keluarga yang bahagia dan penuh dengan senyuman di masing-masing wajahnya. Tapi bahagia tidaklah selalu menyertai saya. Dan semuanya mulai terkikis saat… Papa berpulang.

Sepuluh tahun yang lalu, saat Papa berpulang, cerita ini pun dimulai. Keluarga bahagia kini timpang.. Mama yang tidak terbiasa dengan hal finansial mulai kebingungan. Hampir semua pemasukan dan pengeluaran tidak terkontrol.
Apakah mereka jatuh miskin? Tidak! Mereka masih bisa hidup.. Selama hampir setahun pertama, kondisi terseok-seok menghampiri keluarga itu. Arahan dalam hidup yang dahulu sering terlontar dari bibir Papa, beranngsur tidak terdengar. Semuanya bebas, termasuk kepada anaknya.
Mama saat ini disibukkan dengan berbagai cara untuk mulai menjalani hidup sebagai single parent. Menjadi Papa sekaligus Mama bagi ketiga anaknya yang sedang menuju kedewasaan tidaklah mudah. Sifat sulung yang terlalu dimanja oleh Papa terkadang membuat dirinya merasa cocok untuk mengambil alih dan mendampingi Mama menjadi kepala dari keluarga ini. Namun sayangnya, si sulung berpengalaman pun tidak.
Bagaimana dengan saya? Banyak pihak yang meminta saya tuk menggantikan posisi sulung tuk menjadi kepala di rumah ini, alasan utama hanya karena saya adalah satu-satunya anak lelaki dalam keluarga. Dalam kondisi masih ‘anak sekolah’, tentu saja saya menolak permintaan itu. Saya belum sanggup dan saya masih ingin seperti teman sekolah saya yang lain dan hidup seperti dulu. Ya, saya masih cinta dengan zona nyaman saya. Dan kesedihan itu dimulai saat saya menyerahkan banyak hal untuk diurus oleh sulung.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s